Rabu, 29 Februari 2012

Pengalaman perpusnas

Arsip:
pengalaman sejak satu dekade, sejak 1990 saya bergabung dengan Perpusnas, upaya mendorong pengembangan berbagai jenis perpustakaan sudah cukup dilakukan, a.l. lewat diklat, bantuan koleksi awal dalam jumlah minimal, penyampaian berbagai pedoman, serta upaya memantau perkembangannya melalui NPP (nomor pokok perpustakaan). Tapi ya itu, lagi-lagi, kembali kepada peran pimpinan dan pengambil keputusan di perpustakaan dan instansi masing-masing. Nah, itulah sekedar ilustrasi tentang peran Perpusnas selama ini. Lebih "celaka" lagi, adalah dengan pelaksanaan Otda, maka yang punya kuasa/power adalah Daerah (Kota, Kotamadya, Kabupaten). Biarpun pihak Perpusnas berkoar sampai copot tenggorokan, kalau mereka yang sekarang punya power adem-ayem, bahkan masih bertanya apa sih perpustakaan itu, maka perkembangan perpustakaan rasanya seperti bunyi dawai kendo kenceng, kendo kenceng. Hi-hi-hi! Dan tentunya anda masih ingat, appeal dari saya ke Bapak Dirjen Dikti waktu di Wisma Kinasih (yang ada nyamuknya!). pada waktu FPPTI. Saya menghimbau, sekiranya 2-3% anggaran Diknas tahun anggaran 2001 yang Rp.11 trilyun (?) dialokasikan untuk pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi. Wah, alhamdulillah sekali! Nah, sekarang ? Apa sudah ada tindak lanjut? Wallahuallam bissawab. Nanyao sama rumput yang bergoyang. Saya tidak bermaksud skeptis, tapi semuanya banyak tergantung pada goodwill dan action nyata semua pihak, dan bukan hanya dari Perpusnas saja. Ini bukan apologia, tapi ini adalah masalah kita bersama. Terimakasih, selamat bekerja dan salam hangat, Hernandono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar